I LOVE INDONESIA, HOW ABOUT YOU? welcome

Sabtu, 14 April 2012



Daya tarik wisata di Kabupaten Gunungkidul merupakan perpaduan harmonis antara kekayaan alam, kebudayaan tradisional dan cara hidup masyarakatnya. Kebudayaan didasari oleh adat istiadat jawa yang masih alami, sedangkan kekayaan alam mencakup keindahan pantai serta gelombang pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang besar. Suguhan berupa upacara tradisi budaya juga selalu dilaksanakan tiap tahun diantaranya upacara sedekah laut, pembukaan cupu panjala dan lainnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.Dengan ditunjang oleh sikap masyarakat yang ramah dan terbuka dalam menerima wisatawan, hal ini diharapkan akan membuat wisatawan merasa diterima dan dihargai.
Panjang garis pantai yang ada sepanjang 97,76 km sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi objek wisata bahari. Sampai saat ini objek wisata pantai yang ada berjumlah 14 objek. Pemerintah telah membangun akses menuju objek wisata tersebut dengan menyediakan akses jalan dan dapat sampai dibibir pantai.
Pemandangan karang laut, terdapat pasir putih, deburan ombak laut selatan yang khas, hiruk pikuk nelayan tradisional, bentang pegunungan karst, dan warna laut yang biru dan asri merupakan ciri khas kawasan pantai yang ada di Gunungkidul. Jumlah kunjungan wisata rata-rata per tahun antara 15.371 orang- 352.244 orang. Fasilitas pendukung pariwisata yang tersedia saat ini mencakup hotel bintang dua dan hotel non bintang sebanyak 34 unit.
Potensi investasi yang mungkin dikembangkan adalah penyediaan agen perjalanan wisata dan fasilitas pendukung lain yang melayani kebutuhan perjalanan wisatawan, seperti ticketing, paket tour, dokumen perjalanan, konfrence/meeting, transportasi, sewa kendaraan, pemandu perjalanan, cruising, reservasi hotel, dan lainnya. Potensi wisata yang ada merupakan aset yang memiliki nilai jual diminati wisatawan, kondisi ini akan semakin berkembang apabila para investor dapat berpartisipasi dalam menumbuhkan dan membangun sarana dan prasarana wisata yang menunjang kegiatan wisata itu sendiri, seperti hotel untuk paket wisata yang menghabiskan waktu singgah yang cukup lama, restoran dan toko souvenir.

Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar
Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar merupakan dua obyek wisata alam yang letaknya berdekatan dan pada saat-saat tertentu secara bersamaan, masyarakat setempat melaksanakan upacara adat “SADRANAN” secara meriah. Hutan Wonosadi merupakan hutan yang terletak di lereng perbukitan di Desa Beji Kecamatan Ngawen, sekitar 18 km dari Wonosari. Hutan yang kaya dengan pohon-pohon langka sampai saat ini masih sangat terjaga kelestariannya. Gunung Gambar dengan ketinggian 200 mdpl, merupakan obyek wisata spiritual yang berada di Desa Jurangjero Kecamatan Ngawen. Dari puncaknya kita dapat menikmati keindahan Rawa Jombor di Klaten dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Gunung Gambar merupakan tempat bertapa Raden Mas Said/Pangeran Sambar Nyowo selama berperang melawan Belanda. Di tempat ini, beliau duduk di atas batu (Watu Kong) yang sampai sekarang masih terlihat di Gunung Gambar, menyusun strategi untuk melawan Belanda, yang kemudian menjadi penguasa Mangkunegaran Surakarta dengan gelar KGPAA Mangkunegara I. Kesenian yang menarik di daerah ini adalah kesenian “RINDING GUMBENG” yaitu kesenian dengan menggunakan alat musik dari bambu kecil dan sederhana, namun apabila dimainkan akan muncul suara musik yang bagus, enak didengar dan sangat khas.
Kawasan Karst Pegunungan Sewu
Kabupaten Gunungkidul memiliki topografi karst yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Kabupaten Gunungkidul memiliki luas kawasan karst 13.000 km². Bentang alam kawasan karst Gunungkidul sangat unik, hal tersebut dicirikan dengan adanya fenomena di permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst). Fenomena permukaan meliputi bentukan positif, seperti perbukitan karst yang jumlahnya ± 40.000 bukit yang berbentuk kerucut. Bentukan negatifnya berupa lembah-lembah karst dan telaga karst. Fenomena bawah permukaan meliputi goa-goa karst (terdapat 119 goa) dengan stalaktit dan stalakmit, dan semua aliran sungai bawah tanah. Karena keunikan ekosistemnya, maka tahun 1993 International Union of Speleology mengusulkan agar Kawasan Karst Pegunungan Sewu masuk ke dalam salah satu warisan alam dunia. Keunggulan tersebut menjadi model yang besar bagi Kabupaten Gunungkidul untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan potensi daerah dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Sehingga pada tanggal 6 Desember 2004 di Kabupaten Gunungkidul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan wilayah Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan Eko karst. Sumberdaya Pariwisata Karst Kabupaten Gunungkidul banyak ragamnya dan memiliki keunikan serta nilai ilmiah tinggi baik berupa pantai pasir putih yang telah berkembang sebagai wisata masal (mass tourism), wisata minat khusus petualangan seperti panjat tebing (di Pantai Siung, Seropan dan Watu Gupit), susur goa (Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci). Wisata sejarah dan religius (Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis). 1. Lembah Karst Mulo Secara administrasi obyek geowisata karst Lembah Mulo terletak di desa Mulo Kecamatan Wonosari, dan dapat dicapai dengan mudah hanya berjarak 5 km dari kota Wonosari. Lembah Mulo merupakan salah satu obyek amatan karst yang unik karena merupakan bentukan depresi (lembah) dalam ukuran cukup luas yang mengalami runtuhan ratusan tahun lalu. Kawasan ini merupakan kawasan yang ideal untuk dijadikan Centre of Geotourism Activities Kawasan Karst Gunungkidul, karena selain unik juga dari sisi aspek keruangan sangat strategis yaitu berada di jalur utama wisata Kabupaten Gunungkidul dan terletak di zona tengah kawasan karst Gunungkidul. 2. Kalisuci Terletak di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari. Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. Di kawasan ini wisatawan dapat melakukan aktivitas susur goa dengan menggunakan peralatan khusus seperti perahu karet, tali, dan lain-lain. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa kalisuci dengan stalaktit dan stalakmit, keindahan dan kesejukan yang menyatu serta petualangan yang penuh tantangan. 3. Telaga Suling / Bengawan Solo Purba Terletak di desa Songbanyu dan desa Pocung, Kecamatan Girisubo, dengan jarak sekitar 50 km dari kota Wonosari. Telaga Suling berupa lembah yang letaknya dekat dengan Pantai Sadeng.Telaga Suling diyakini pada zaman dulu sebagai muara sungai Bengawan Solo purba dengan pemandangan yang indah dan sejuk karena dikelilingi bukit-bukit. Di lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan tracking atau jelajah wisata. Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, jalur aliran sungai Bengawan Solo purba bisa dinikmati pemandangannya. Bekas aliran tersebut berupa dataran rendah yang diapit dua perbukitan tinggi, yang kini menjadi lahan pertanian, sejauh 7 km ke arah utara hingga wilayah Pracimantoro Kabupaten Wonogiri.
 
Image content
Rest Area Bunder merupakan suatu kawasan yang dilengkapi bangunan pendopo dengan fasilitas listrik 3000 watt, mushola, air bersi, MCK, tempat bermain anak-anak. Terletak di Kecamatan Playen tepatnya di pinggir jalan raya Yogyakarta-Wonosari atau 30 km dari Yogyakarta, Rest Area Bunder merupakan tempat yang strategis untuk persinggahan dan peristirahatan sementara (stop over) bagi wisatawan yang akan melakukan kunjungan ke Kabupaten Gunungkidul.
Tempat ini merupakan bagian dari kawasan hutan Bunder dan hutan Wanagama. Di kawasan hutan Bunder, selain terdapat rest area juga ada beberapa obyek menarik antara lain: budidaya dan penyulingan minyak kayu putih, budidaya sutra alam, penangkaran rusa, Sendang Mole, dan lokasi perkemahan yang nyaman serta cocok untuk kegiatan outbond.
Sedangkan kawasan hutan Wanagama yang memiliki luas 600 ha merupakan hutan buatan dan sebagai pola percontohan untuk mengembangkan hutan serbaguna khususnya dalam mengatasi lahan kritis dan penghijauan.
Di kawasan hutan Wanagama juga terdapat Museum Kayu yang unik dan menarik karena terdapat aneka ragam peralatan kayu yang sudah tua umurnya, yaitu barang-barang antik dan langka serta beragam. Di sebelah barat mengalir Sungai Oya yang menambah kesejukan kawasan Rest Area Bunder.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar